ANALISIS NERACA PEMBAYARAN NEGARA SINGAPURA TAHUN 2008, 2009, 2010



PENDAHULUAN

Neraca pembayaran (Ballance of Payment) adalah suatu catatan atau pendataan yang berisi ringkasan aktifitas ekonomi yang dilakukan oleh suatu badan mandiri ataupun suatu badan kenegaraan yang berupa transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain dalam jangka waktu yang telah ditentukan namun biasanya adalah satu tahun. Neraca pembayaran dapat mencakup aktifitas ekonomi berupa pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, serta transaksi financial lainya. Neraca ini dikeluarkan sebagai bentuk evaluasi adanya untung atau rugi dari kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh pihak terkait guna perbaikan agar lebih baik lagi untuk urusan perekonomian mereka dimasa depan.
Didalam tugas ini saya akan menjelaskan tentang analisis neraca pembayaran di negara Singapura dan apa dampak yang terjadi terkait faktor yang mempengaruhi neraca berjalan tersebut. Kemudian, mengapa neraca pembayaran perlu kita analisis? Karena jika neraca pembayaran mengalami surplus ataupun defisit akan berdampak pada keseimbangan suatu ekonomi negara, jika ketidakseimbangan ini terjadi bisa berakibat seperti nilai tukar nilai tukar suatu negara tersebut melemah terhadap negara lain yang berdampak negatif pada permintaan barang ekspor menjadi mahal dan  barang impor menjadi murah, dengan ini permintaan produksi dari dalam negeri akan akan berkurang dan berdampak pada pendapatan nasional negara tersebut dan dampak negatif  lainnya. Dengan demikian kita perlu melakukan analisis necara pembayaran (Ballance of Payment).
Disini akan menganalisis neraca pembayaran (Balance of Payment) negara Singapore dengan segala faktor terkait yang mempengaruhi perubahan-perubahan atau ketidak-seimbangan neraca pembayaran pada tahun 2007, 2008 dan  2010.
A.    Analisis Neraca Pembayaran (Ballance of Payment) Singapore tahun 2008
Neraca  pembayaran Singapura mengalami defisit pada tahun 2008 sebesar S$37,275.5 million (dalam milyar) dari sebelumnya pada tahun 2007 sebesar S$59,092.0 milyar), defisit sebesar  S$ 14816,5 milyar tentunya tidak lepas dari faktor yang mempengaruhinya. Penurunan yang terjadi disebabkan adanya resesi global yang didorong oleh krisis keuangan global yang datang secara tiba-tiba menyebabkan ekspor manufaktur industri dari berbagai negara di Asia Tenggara. Singapura adalah negara Timur Asia pertama yang mengalami resesi akibat krisis ekonomi global pada tahun 2008. Hal tersebut terjadi karena sektor manufaktur yang menjadi kunci pertumbuhan ekonomi di Singapura  memiliki ketergantungan akan ekspor yang tinggi. Industri di Singapura dapat dikatakan mengandalkan konsep perantara perdagangan dengan mengimpor barang-barang mentah dan menyempurnakannya untuk diekspor kembali. Barang ekspor utama di Singapura berada di sektor barang dan jasa, yang  mengalami penurunan yang cukup tinggi, disebabkan oleh memburuknya kondisi ekonomi secara keseluruhan di AS dan Eropa. Kondisi ekonomi di Singapura juga dipengaruhi oleh kerugian besar dari runtuhnya pasar saham akibat krisis global. Pada tahun ini Singapura mengalami pertumbuhan GDP yang negatif dari S$44,191.24 perkapita tahun 2007 menjadi S$42,650.1 perkapita di tahun 2008 yang dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.
 
(Tabel 1)
Pada tahun ini tingkat infalsi juga mengalami kenaikan,. Pada tahun 2007 tingkat inflasi sebesar 4,1% yang naik menjadi 4,9% pada tahun 2008.  Inflasi mendorong harga barang-barang impor lebih murah daripada harga barang yang dihasilkan di dalam negeri. Hal ini akan mengakibatkan impor berkembang lebih cepat daripada ekspor. Selain itu, arus modal ke luar negeri akan lebih banyak dibanding yang masuk kedalam negeri. Keadaan ini akan mengakibatkan terjadinya defisit neraca pembayaran (lihat tabel Ballance of Payment) dan kemerosotan nilai mata uang dalam negeri. Terjadinya krisis ekonomi global ini juga berdampak pada menambahnya tingkat penangguran sehingga pemerintah Singapura merubah kebijakan untuk mengendalikan masuknya tenaga kerja asing ke negaranya. 
(Tabel 2)
B.     Analisis Neraca Pembayaran (Ballance of Payment) Singapura tahun 2009
Pada tahun 2009 neraca pembayaran (Ballance of Payment) Singapura mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, dapat dilihat dari tabel neraca pembayaran (Ballance of Payment) terjadi kenaikan dari sebelumnya S$37,375.5 pada tahun 2007 menjadi S$43,836.0 pada tahun 2008. Meski Ballance of Payment mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Kenaikan bukan berarti pertumbuhan di Singapura karena kenaikan ini di dorong oleh meningkatnya aktvitas penjualan properti asing untuk investasi di Singapura ketika nilai tukar Singapura mengalami penurunan. Pergerakan ini dilatari sejumlah hal: motif pembeli untuk mendapatkan keuntungan harga murah menyusul koreksi harga yang terjadi. Harga murah yang terjadi disebabkan deflasi (lihat tabel 2). Akibat adanya deflasi ini nilai tukar Singapura mengalami penurunan, sehingga pendapatan domestik bruto pada tahun ini juga mengalami penurunan, dimana pendapatan perkapita yang tahun ini S$ 41,133.3 yang merosot dari S$42,460.5 pada tahun 2008 (lihat tabel 1). Untuk mengatasi ini pemerintah mulai memberlakukan pembatasan properti residensial karena tingakt suku bunga rendah dan permintaan pembeli asing yang meningkatkan khawatirkan. Mereka juga memasukkan pembatasan pada biaya pembayaran hutang sebesar 60% dari pendapatan bulanan penyewa, bea meterai yang tinggi, serta peningkatan pajak properti.
C.     Analisis Neraca Pembayaran (Ballance of Payment)  Singapura tahun 2010
Neraca pembayaran Singapura mengalami peningkatan yang sangat baik, dimana pada kuartal 1 dan 2 tahun 2010, pertumbuhan GDP Singapore mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh dampak dari proses recovery Singapura terhadap krisis finansial global tahun 2008. Di Asia, permintaan domestik akan terus mendorong intra-regional arus perdagangan dan menguntungkan sektor perdagangan grosir Singapura. Hal ini dapat di lihat pada tabel Ballance of Payment dimana kenaikan terjadi pada tahun 2010 sebesar S$75.868,7 milyar dari sebelumnya S$43.836,0 milyar pada tahun 2009. Kenaikan sebesar 14,7% terhadap tahun lalu yang sempat mengalami penurunan sebesar 1,3%, menjadikan Singapura sebagai negara Asia dengan pertumbuhan tercepat di tahun 2010 ini. Pertumbuhan pada pertengahan tahun 2010 ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya diantaranya meningkatnya tingkat expor di tahun ini S$419,903.7 milyar dari yang sebelumnya S$ 419,493.0 milyar.
Pertumbuhan ekonomi yang sangat baik ini juga dapat kita lihat di tabel 1 dimana pendapatan perkapita tahun ini sebesar S$46,659.58 dari sebelumnya S$41,133.3 di tahun 2009. perekonomian Singapura didorong oleh keunggulan ekspor yang bagus terutama pada sektor perdagangan barang dan jasa. Hal ini dapat kita lihat di tabel 2, dimana tingkat inflasi tahun ini relatif stabil (lihat tabel 2). Terkait dengan pemulihan di tahun ini pasca krisis ekonomi yang terjadi pada tahu 2009 nilai tukar akan dollar singapura mengalami kenaikan.

Tabel Neraca Pembayaran (Ballance of Payment) Singapura tahun 2008, 2009, 2010


              

                

REFERENSI
http://www.mas.gov.sg/~/media/resource/eco_research/eco_dev_ana/inflation_monthly/2009/InflationApr09.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Evaluasi dan Pengendalian